Penipuan Deepfake Berbasis AI Makin Marak, Begini Cara Menghindarinya!
Halo, Sobat JTegh! Kemajuan teknologi, khususnya di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), terus membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah deepfake—teknologi berbasis AI yang mampu memanipulasi video dengan sangat realistis, menggantikan wajah seseorang dengan wajah orang lain.
Keakuratan yang dihasilkan sering kali membuat sulit dibedakan antara yang asli dan buatan. Dalam artikel ini, kita akan mengulas lebih dalam tentang deepfake, bagaimana cara kerjanya, kontroversi yang menyertainya, Bagaimana cara mendeteksi Deepfake.
Apa Itu DeepFake?
Deepfake adalah teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat memanipulasi video dan audio sehingga seseorang tampak atau terdengar melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Sejak kemunculannya pada tahun 2017, teknologi ini terus berkembang pesat, menghadirkan kemampuan yang semakin canggih dalam mengubah wajah serta suara seseorang dalam video secara nyaris sempurna.
Awalnya, deepfake dikembangkan melalui algoritma pemrosesan citra yang memungkinkan penggabungan wajah ke dalam video lain. Seiring kemajuan teknologi, teknik ini menjadi semakin presisi dan digunakan dalam berbagai aspek, mulai dari industri hiburan hingga politik. Namun, di balik kecanggihannya, deepfake juga memunculkan ancaman serius terhadap privasi dan keamanan digital, terutama dalam penyebaran informasi palsu serta pencemaran nama baik.
Oleh karena itu, memahami teknologi deepfake dan dampaknya sangat penting di era digital ini. Dengan wawasan yang lebih mendalam, masyarakat dapat lebih waspada terhadap potensi ancaman yang ditimbulkan serta mengembangkan strategi efektif untuk melindungi diri dan meminimalkan risiko penyalahgunaannya.
Baca Juga: Super Apps: Semua dalam Satu – Akankah Mereka Mendominasi di Tahun 2025?
Cara Kerja DeepFake
Deepfake, sebuah fenomena yang mengguncang dunia digital, hadir di tengah kekhawatiran akan manipulasi media. Teknologi ini mengandalkan algoritma deep learning yang luar biasa, mampu 'memahami' dan mereplikasi wajah manusia dengan tingkat detail yang mencengangkan. Algoritma ini mempelajari setiap nuansa ekspresi dan karakteristik wajah, memungkinkan pembuatan video palsu yang sangat realistis. Proses rumit di balik deepfake ini melibatkan dua metode utama yang menjadi landasan teknologinya
- Deep Neural Networks (DNN):
Di balik ilusi video yang tampak nyata, terdapat kekuatan Deep Neural Networks (DNN), sebuah arsitektur jaringan saraf tiruan berlapis yang menjadi tulang punggung teknologi deepfake. Ibarat seorang ilusionis digital, DNN mampu "mencangkokkan" wajah seseorang ke dalam video lain dengan tingkat realisme yang mencengangkan. Prosesnya diawali dengan pengumpulan data wajah target dan video sumber, kemudian algoritma deep learning dilatih untuk meniru ekspresi, gerakan bibir, dan sorot mata dengan presisi tinggi.
Namun, di balik keajaiban ini, tersimpan potensi bahaya yang mengintai. Kemampuan deepfake untuk memanipulasi realitas dapat disalahgunakan untuk menyebarkan disinformasi, memicu konflik, dan merusak reputasi.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman deepfake dan mengembangkan strategi deteksi serta mitigasi yang efektif. Dengan memahami cara kerja DNN dan implikasinya, kita dapat melindungi diri dari ancaman manipulasi digital dan memastikan teknologi ini digunakan untuk tujuan yang positif.
- Generative Adversarial Networks (GANs)
Generative Adversarial Networks (GANs) adalah model machine learning yang unik, seperti dua seniman yang saling berlomba. Yang satu, sang generator, lalu membuat konten palsu yang makin mirip asli. Yang lain, sang discriminator, berusaha keras membedakan mana yang palsu. Proses ini, seperti pertandingan tanpa akhir, membuat konten deepfake makin sulit dibedakan.
Meski teknologi ini canggih, bahayanya nyata. Kemampuan GANs membuat video atau suara palsu yang meyakinkan bisa dimanfaatkan untuk menyebar berita bohong, memanipulasi opini, atau bahkan memeras. Kita perlu paham cara kerja GANs dan cari cara untuk mendeteksi serta melawan deepfake yang makin canggih ini.
Baca Juga: MaxFocus: Ekstensi Peramban yang Bantu Kamu Tetap Produktif
Bahaya Dari Deepfake
Teknologi deepfake, yang dapat memanipulasi video dan audio sehingga menampilkan adegan atau suara seolah-olah berasal dari individu asli, telah memberikan dampak besar, di antaranya:
- Ancaman Keamanan dari Deepfake
Teknologi deepfake menghadirkan ancaman serius dalam dunia keamanan. Dengan kemampuannya memanipulasi video dan audio, deepfake dapat digunakan untuk menyebarkan informasi palsu, merusak reputasi seseorang, hingga dimanfaatkan dalam kejahatan seperti penipuan dan pemerasan. Lebih dari itu, deepfake berpotensi membobol sistem keamanan berbasis pengenalan wajah atau suara, membuka celah bagi peretasan dan penyalahgunaan data.
- Privasi yang Semakin Rentan
Deepfake menjadi ancaman serius bagi privasi dengan kemampuannya memalsukan video atau audio yang menampilkan seseorang dalam situasi yang tidak pernah terjadi. Hal ini dapat merugikan individu, baik secara pribadi maupun profesional, serta membuka peluang bagi manipulasi, pencemaran nama baik, hingga pelecehan digital.
- Ancaman terhadap Citra dan Hak Cipta
Deepfake berpotensi merusak citra dan reputasi seseorang dengan menampilkan individu dalam situasi yang tidak pernah terjadi. Konten manipulatif semacam ini dapat memengaruhi persepsi publik dan menimbulkan dampak sosial yang serius. Selain itu, penggunaan materi tanpa izin dalam deepfake memicu permasalahan hak cipta yang rumit, membuka diskusi tentang etika dan legalitas dalam dunia digital.
- Etika dan Kontroversi
Penggunaan deepfake yang tidak etis menimbulkan kontroversi dan tantangan moral yang serius. Teknologi ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap informasi dan media, memicu permasalahan hukum, serta menimbulkan dilema dalam regulasi privasi dan keamanan. Jika disalahgunakan, deepfake berpotensi menciptakan ketidakstabilan sosial dan kebijakan yang merugikan banyak pihak.
Contoh Kasus Deepfake yang terjadi di indonesia
Deepfake bukan lagi sekadar ancaman di layar kaca, tetapi telah merambah ke kehidupan nyata masyarakat Indonesia. Mari kita telusuri beberapa kasus yang mengguncang dan menjadi bukti nyata betapa berbahayanya teknologi manipulasi ini.
- Mantan Presiden Jokowi fasih bahasa mandarin

Pada 2023, publik dihebohkan oleh video yang menampilkan Presiden Joko Widodo berpidato dalam bahasa Mandarin. Video ini cepat menyebar di media sosial, memicu spekulasi dan kebingungan. Pengamat komunikasi Emrus Sihombing menilai bahwa pidato kenegaraan seharusnya menggunakan bahasa Inggris dengan teks terjemahan agar tidak menimbulkan multitafsir.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kemudian mengonfirmasi bahwa video tersebut adalah hasil manipulasi deepfake menggunakan kecerdasan buatan (AI). Aslinya, video itu berasal dari pidato Jokowi dalam Gala Dinner USINDO, US Chamber, dan USABC di AS pada 2015.
Penyebaran video ini berdampak serius, terutama karena terjadi di tengah kampanye Pemilu 2024. Deepfake semacam ini berpotensi memperkeruh suasana politik, menyebarkan disinformasi, dan memanipulasi opini publik, membuktikan betapa berbahayanya teknologi ini jika disalahgunakan.
- Kasus Deepfake Presiden Prabowo Subianto

Awal 2025, Indonesia dihebohkan oleh kasus penipuan berbasis deepfake yang merugikan korban hingga puluhan juta rupiah. Pelaku memanfaatkan teknologi manipulasi video untuk membuat rekaman yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto seolah-olah mengumumkan program bantuan keuangan dari pemerintah.
Dalam video tersebut, suara yang menyerupai Prabowo menyampaikan bahwa setiap keluarga berhak menerima Rp 50 juta sebagai bantuan pribadi darinya. Video ini pun menyebar luas dan menarik perhatian banyak orang. Faktanya, pernyataan tersebut tidak pernah dibuat oleh Presiden, melainkan hasil rekayasa digital.
Pelaku, berinisial AMA, mencantumkan nomor kontak dalam video dan meminta korban mentransfer sejumlah uang sebagai biaya administrasi, dengan nominal antara Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta. Setelah dana diterima, ia langsung menghilang tanpa memberikan bantuan apa pun.
Hasil penyelidikan membawa polisi ke rumah pelaku di Lampung Tengah, tempat ia akhirnya ditangkap pada 16 Januari 2025. AMA dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta Pasal 51 Ayat 1 junto Pasal 35 UU Nomor 1 Tahun 2024, yang merupakan revisi dari UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE. Jika terbukti bersalah, ia menghadapi ancaman hukuman 12 tahun penjara dan denda hingga Rp 12 miliar.
Baca Juga: Thunderbird: Aplikasi Email Super Aman dan Bebas Tracking
Cara Efektif Mendeteksi Deepfake dengan Mudah
Kemajuan teknologi deepfake semakin canggih, membuat konten manipulatif sulit dikenali. Namun, penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menawarkan metode untuk membantu masyarakat membedakan konten asli dan palsu. Salah satu eksperimen mereka, Detect Fakes, mengajak pengguna untuk menguji kemampuan mereka dalam mengenali deepfake melalui teks, audio, dan video. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik terhadap bahaya konten manipulatif dan dapat diakses melalui detectfakes.media.mit.edu.
Berdasarkan riset MIT, berikut beberapa cara mendeteksi deepfake:
- Perhatikan Wajah – Deepfake tingkat tinggi sering menunjukkan perubahan mencolok pada wajah. Perhatikan apakah ekspresi atau gerakan terlihat tidak alami.
- Analisis Pipi dan Dahi – Kulit yang terlalu halus atau keriput berlebihan bisa menjadi tanda. Ketidaksesuaian antara usia kulit, rambut, dan mata juga perlu dicermati.
- Amati Mata dan Alis – Efek bayangan yang tidak alami di sekitar mata dan alis bisa menjadi indikasi konten buatan AI.
- Observasi Kacamata – Cahaya yang memantul pada kacamata harus sesuai dengan sudut pencahayaan. Jika silau terlihat tidak konsisten, kemungkinan besar itu hasil deepfake.
- Periksa Rambut Wajah – Deepfake sering kali gagal menghasilkan rambut wajah yang alami, seperti kumis atau janggut yang tampak aneh atau tidak sesuai.
- Perhatikan Tahi Lalat – Keberadaan atau hilangnya tahi lalat secara tiba-tiba bisa menjadi petunjuk bahwa gambar atau video telah dimanipulasi.
- Cermati Kedipan Mata – Pola kedipan yang terlalu jarang atau tidak wajar dapat menunjukkan video deepfake, karena AI sering kesulitan mereproduksi gerakan alami mata.
- Analisis Bibir – Ukuran dan warna bibir yang tidak proporsional dengan wajah bisa menjadi tanda manipulasi digital.
Dengan memahami ciri-ciri deepfake, masyarakat dapat lebih waspada terhadap konten yang dipalsukan. Kesadaran dan kewaspadaan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman informasi digital yang semakin kompleks.